Hanya Sebuah Potongan Kisah dari Perjalanan Hidup yang Pernah Dilalui

Oleh: Stefanus Hansen, S.Pd. M.Pd
Alumni STAI Sirojul Falah Bogor

Tentang masa kecil…
masa yang sering kali paling dirindukan oleh siapa pun.
Masa ketika rumah terasa begitu hangat,
ketika tawa keluarga memenuhi setiap sudut,
dan kasih sayang hadir tanpa syarat.
Menjalani hari-hari dengan bahagia bersama orang-orang tercinta,
tanpa menyadari bahwa hati sedang mencari arah menuju kebenaran yang belum ditemukan.

Sampai akhirnya Allah memperkenalkan Islam.
Perlahan hati mulai memahami arti ketenangan yang sesungguhnya.
Mulai mengerti tujuan hidup,
dan mulai belajar kepada siapa seluruh rasa lelah seharusnya kembali.

Namun ternyata jalan hidayah tidak selalu dihiasi kemudahan.
Semakin hati dekat dengan Allah,
semakin berat ujian yang datang.
Semakin ingin menjaga iman,
semakin banyak air mata yang harus ditahan sendirian.

Kehangatan rumah yang dulu terasa begitu dekat,
perlahan berubah menjadi jarak.
Pelukan yang dulu menenangkan,
kini hanya tinggal kenangan.

Dan orang-orang yang sangat dicintai… perlahan harus direlakan karena pilihan iman yang tidak semua orang bisa mengerti.
Tidak banyak yang memahami rasanya menahan rindu kepada keluarga,
sambil tetap berusaha teguh mempertahankan keyakinan.

Tersenyum di depan banyak orang,
tetapi menangis diam-diam ketika malam datang.
Kadang hati ingin kembali pada masa-masa lama yang penuh kehangatan.

Namun hati juga sadar,
bahwa kebenaran tidak mungkin ditinggalkan setelah Allah memperlihatkannya.
Akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah tetap bertahan.
Bertahan meski hati terluka.
Bertahan meski kesepian datang berkali-kali.
Dan bertahan walau harus kehilangan banyak hal yang pernah dianggap paling berharga.

Tetapi dari semua kehilangan itu,
Allah menghadirkan sesuatu yang tidak mampu dibeli oleh apa pun: ketenangan hati.
Ketenangan saat bersujud.
Ketenangan ketika mengadu dalam doa panjang.
Dan ketenangan karena akhirnya hati menemukan jalan pulang yang sebenarnya.

Mungkin hidup hari ini tidak lagi sama seperti dulu.
Namun sejak mengenal Islam,
hati ini justru merasa lebih hidup.
Karena pada akhirnya…
lebih baik bersama Allah meski harus berjalan dalam sepi,
daripada memiliki segalanya tetapi jauh dari petunjuk-Nya.
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Dan Allah lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Leave a Reply