Hari Kurban dalam Perspektif Dr. Ali Shariati

Oleh: Nashihudin (Nash Bro)
Mahasiswa STAI Sirojul Falah dan Aktifis Islam

“Kurban bukan soal darah yang tumpah, melainkan soal ego yang harus disembelih. Jika hati masih terikat pada harta, jabatan, atau kebanggaan semu, maka hewan yang kau sembelih hanyalah daging biasa, bukan pengorbanan sejati.”

Ali Shariati –

Siapa Ali Shariati?

Dua puluh tahun lalu, naik kereta dari stasiun lampung menuju stasiun Palembang, mengikuti pelatihan Taining of Trainer (ToT), disanalah pertama kali berkenalan dengan pemikiran DR. Ali Shariati.

Ali Shariati adalah intelektual yang memadukan studi sosiologi Barat, filsafat eksistensialis, dan warisan Islam menjadi kerangka pemikiran yang membebaskan. Melalui ceramah-ceramahnya tentang haji dan ritual Islam yang kemudian dibukukan dalam Hajj (1970-an), Shariati menawarkan perspektif baru, bahwa ibadah bukan pelarian dari dunia, melainkan alat transformasi sosial. Dalam kacamata Shariati, setiap ritual Islam menyimpan kode etik, kritik sistemik, dan panggilan untuk membangun masyarakat yang adil. Begitu pula dengan Kurban, sebagai puncak dari rangkaian haji.

Kurban Bukan Sekadar Darah dan Daging

Jalanan dipenuhi antrean kurban, dapur ramai mengolah daging, dan masjid bergema takbir. Hari Kurban dimaknai sebagai puncak kepatuhan ritual, menyembelih hewan, membagikan daging, dan meneladani kisah Nabi Ibrahim. Namun, bagi seorang sosiolog dan pemikir seperti DR. Ali Shariati (1933–1977), kurban jauh melampaui dimensi seremonial. Baginya, kurban adalah manifesto sosial-spiritual yang menggugah kesadaran, mengkritik ketimpangan, dan mengajak manusia kembali pada makna sejati pengorbanan. Bagi Shariati, menyembelih hewan kurban adalah metafora radikal untuk menyembelih ego, keserakahan, dan keterikatan pada “berhala modern”. Dalam masyarakat kapitalis, berhala tidak lagi berupa patung batu, melainkan uang, jabatan, konsumerisme, dan budaya individualisme yang memisahkan manusia dari sesamanya. Kurban menurutnya, adalah latihan spiritual untuk memutuskan rantai ketergantungan pada hal-hal yang membuat manusia lupa pada tujuan penciptaannya, menjadi khalifah yang memelihara keadilan dan keberlanjutan bumi.

Nabi Ibrahim adalah Sosok yang Menghancurkan Berhala

Kisah Nabi Ibrahim yang rela mengurbankan Ismail sering dipahami sebagai simbol kepatuhan total. Shariati tidak menolak dimensi spiritual ini, tetapi menambahkan lapisan kritis, bahwa Ibrahim adalah figur pemberani yang berani memutus rantai ketundukan pada sistem yang menindas. Sebelum peristiwa penyembelihan, Ibrahim justru menghancurkan berhala-berhala masyarakatnya. Shariati membaca ini sebagai pesan bahwa iman sejati selalu diawali dengan keberanian mendekonstruksi keyakinan palsu yang dilegitimasi oleh kekuasaan, tradisi buta, atau hegemoni ekonomi.

Dalam konteks kontemporer, “mengurbankan Ismail” bisa dimaknai sebagai kesediaan melepas kepentingan pribadi, privilege, atau kenyamanan demi tegaknya prinsip kemanusiaan. Ibrahim tidak mengorbankan anaknya karena kehendak semena-mena, melainkan sebagai ujian kesadaran: apakah manusia mampu menempatkan keadilan dan tauhid di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Kurban sebagai Gerakan Kesadaran

Hari Kurban dalam perspektif DR. Ali Shariati, bukan akhir dari sebuah ritual, melainkan awal dari gerakan kesadaran kolektif. Ia mengajak kita bergeser dari pertanyaan “berapa kilogram daging yang aku bagikan?” menuju “seberapa dalam aku bersedia mengorbankan ego, privilese, dan ketidakpedulian demi kemanusiaan yang lebih adil?”

Selamat menyambut Hari Raya Kurban. Semoga tidak sekadar hewan yang disembelih, tetapi juga keberanian kita untuk mengorbankan keegoisan, demi dunia yang lebih adil dan lebih manusiawi.

Banten, 17 Mei 2026

Leave a Reply