Oleh: Dr. Abd Misno, MEI, MH., M.Pd
Salah satu bukti terbesar kesempurnaan Islam adalah bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengajarkan shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga mengatur kehidupan rumah tangga, pendidikan anak, muamalah, bisnis, perdagangan, makanan, minuman, hingga cara mencari nafkah. Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh kebutuhan manusia sampai hari kiamat.
Di antara bentuk kesempurnaan Islam adalah adanya aturan yang jelas tentang tanggung jawab seorang kepala keluarga. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu ketika menjelaskan ayat ini berkata:
عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ
“Ajarkan mereka dan didiklah mereka.”
Artinya, seorang ayah tidak cukup hanya memberi makan, memberi pakaian, atau menyekolahkan anak-anaknya. Ia juga wajib menjaga aqidah mereka, ibadah mereka, akhlak mereka, dan keselamatan mereka dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu kewajiban terbesar kepala keluarga yang sering terlupakan adalah memastikan bahwa makanan yang masuk ke rumahnya berasal dari sumber yang halal. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Perintah halal dalam Islam bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi masalah aqidah, ibadah, dan keselamatan akhirat. Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Dalam hadits yang sama Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam menyebutkan seseorang yang berdoa dengan penuh harap, mengangkat kedua tangannya ke langit, namun doanya tidak dikabulkan karena:
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
Perhatikanlah, ketika makanan menjadi haram, bukan hanya tubuh yang terdampak, tetapi juga ibadah, doa, hati, dan masa depan seseorang. Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Setiap jasad yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih berhak terhadapnya.”
Betapa mengerikan ancaman ini. Ketika seorang ayah membawa pulang uang hasil riba, korupsi, suap, penipuan, manipulasi, penggelapan, atau kecurangan dalam bisnis, lalu uang itu dibelikan makanan untuk keluarganya, maka makanan tersebut berubah menjadi darah dan daging anak-anaknya. Para ulama salaf sangat takut terhadap perkara ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
مَنْ أَكَلَ الْحَلَالَ أَطَاعَ اللَّهَ شَاءَ أَمْ أَبَى، وَمَنْ أَكَلَ الْحَرَامَ فَجَوَارِحُهُ تَعْصِي شَاءَ أَمْ أَبَى
“Barangsiapa memakan yang halal, maka anggota tubuhnya akan terdorong untuk taat kepada Allah. Dan barangsiapa memakan yang haram, maka anggota tubuhnya akan terdorong kepada kemaksiatan, baik ia menyadarinya ataupun tidak.” Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:
فَإِنَّ أَصْلَ الْعِبَادَةِ وَأَسَاسَهَا طِيبُ الْمَأْكَلِ
“Sesungguhnya salah satu fondasi utama ibadah adalah baik dan halalnya makanan yang dikonsumsi.”
Karena itu tidak mengherankan apabila banyak orang rajin beribadah namun sulit merasakan manisnya iman, sulit khusyuk dalam shalat, sulit mendapatkan keberkahan hidup, karena ada masalah pada sumber penghasilannya.
Hari ini banyak orang tua bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. Itu adalah kewajiban yang mulia. Akan tetapi jangan sampai demi mengejar dunia kita mengorbankan agama. Jangan sampai anak-anak memiliki rumah yang mewah tetapi kehilangan keberkahan. Jangan sampai anak-anak mendapatkan pendidikan tinggi tetapi tumbuh dari makanan yang haram. Jangan sampai kita meninggalkan harta yang banyak tetapi menjadi bahan tuntutan di hadapan Allah pada hari kiamat. Sebab yang Allah minta bukan banyaknya harta, tetapi keberkahannya. Allah Ta’ala berfirman:
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)
Semoga Allah menjadikan kita sebagai kepala keluarga yang amanah, yang mampu menjaga diri dan keluarganya dari api neraka dengan pendidikan yang benar dan nafkah yang halal.
Marilah kita memperkuat tekad untuk menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Tanggung jawab itu bukan hanya mencari nafkah, tetapi memastikan nafkah tersebut halal, mendidik keluarga dalam ketaatan, membiasakan shalat, membimbing anak-anak mencintai Al-Qur’an, dan menjauhkan mereka dari sebab-sebab kemurkaan Allah.
Ingatlah bahwa jabatan, kekayaan, dan kedudukan tidak akan ditanya sebanyak pertanyaan tentang amanah keluarga yang Allah titipkan kepada kita. Mari kita bermuhasabah sebelum datang hari ketika seluruh amal diperhitungkan di hadapan Allah.
