HIJRAH INTELEKTUAL

Oleh : Nasehudin

“Sains, filsafat, dan agama semuanya bertemu pada satu titik yaitu pergerakan. Hijrah adalah bentuk fisik dari kesadaran spiritual, tanda bahwa manusia menolak untuk membeku dalam sejarah.” 

– Dr. Ali Shariati —

Tahun baru Islam tidak terlepas dari kata Hijrah, sejak 1430 tahun yang silam, ketika para pemimpin umat bermusyawarah di Masjid Nabawi, Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, Usman bin affan, Abdurahman bin Auf dan sahabat senior lainnya telah sepakat bahwa tahun baru islam dimulai dari peristiwa hijrah.

PENGERTIAN HIJRAH SECARA ETIMOLOGI

Secara etimologi (asal-usul kata atau bahasa), kata hijrah (هجرة) berasal dari bahasa Arab, yaitu dari akar kata:

هَجَرَ – يَهْجُرُ – هِجْرَانًا / هِجْرَةً

(Hajara – Yahjuru – Hijranan / Hijratan)

Secara harfiah, akar kata ini memiliki beberapa arti dasar berikut:

  • Memutuskan/Memutus Hubungan (Al-Qath’u): Memutuskan hubungan pertemanan, komunikasi, atau ikatan dengan seseorang atau sesuatu.
  • Meninggalkan (At-Tarku): Meninggalkan suatu tempat, perbuatan, atau kondisi.
  • Menjauhkan Diri (Al-Muqatha’ah): Menjauhkan diri dari pergaulan atau memisahkan diri dari sesuatu yang tidak disukai.

MAKNA HIJRAH MENURUT PARA TOKOH ISLAM

Bagi Dr. Ali Shariati, hijrah bukanlah sekadar peristiwa masa lalu yang diperingati setiap tahun baru Islam, bukan pula sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Sebagai seorang sosiolog Islam, Shariati memandang hijrah sebagai sebuah konsep sosiologis yang revolusioner, dinamis, dan menjadi hukum universal bagi kebangkitan peradaban manusia.

Dalam bukunya Man and Islam, Shariati menganalisis sejarah manusia dan menyimpulkan bahwa tidak ada peradaban besar yang lahir dari masyarakat yang menetap secara statis di satu tempat tanpa ada dinamika pergerakan. Semua peradaban besar, baik Islam, Yunani, Romawi, maupun peradaban modern dipicu oleh adanya migrasi besar-besaran atau perpindahan pemikiran (hijrah). Bagi Shariati, diam dan menolak untuk berubah adalah awal dari pembusukan moral dan sosial. Hijrah adalah simbol bahwa manusia memiliki kehendak bebas (free will) untuk menolak dibentuk oleh lingkungan yang korup atau menindas. Jika sebuah masyarakat atau sistem sudah tidak bisa diperbaiki dari dalam karena terlalu beracun, maka jalan satu-satunya adalah keluar (berhijrah), membangun kekuatan baru, dan melakukan perubahan dari luar.

Menurut Dr. Ali Shariati, Hijrah Intelektual (Berpikir) adalah Perpindahan dari cara berpikir yang dogmatis, taklid buta (ikut-ikutan tanpa dasar), dan tradisionalis, menuju cara berpikir yang kritis, rasional, dan sadar akan tanggung jawab sosial. Shariati meletakkan fondasi konsep ini dalam sosiologinya secara sangat tajam melalui sosok yang ia sebut sebagai Roushanfekr (Intelektual Tercerahkan / Enlightened Thinker). Bagi Shariati, hijrah intelektual bukanlah sekadar proses menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi atau mengoleksi teori-teori Barat. Hijrah intelektual adalah sebuah lompatan kesadaran untukmembebaskan akal dari penjajahan kultural dan dogmatisme, guna mengabdikan diri padapembebasan masyarakat.

Sedangkan menurut Fazlur Rahman, hijrah intelektual adalah inti dari proyek pembaruan Islam yang ia gaungkan sepanjang hidupnya. Sebagai seorang pemikir neo-modernis, Rahman melihat bahwa krisis terbesar yang dialami umat Islam modern bukanlah kemiskinan materi, melainkan kejumudan berpikir (stagnasi intelektual) akibat penutupan pintu ijtihad secara psikologis selama berabad-abad.

Perbedaan Hijrah Intelektual antara Ali Shariati dan Fazlur Rahman. Fokus utama Shariati yaitu sosiologis dan ideologis, sedangkan fokus utama Rahman yaitu Metodelogis dan Hermeunitis. Musuh pemikiran Shariati yaitu imperialisme barat dan islam statis, sedangkan Rahman musuh pemikirannya yaitu taklid buta, traditionalisme kaku dan sekulerisme ekstrim. Shariati melahirkan Roushanfekr (Intelektual penggerak massa), sedangkan Rahman melahirkan pemikir neo modernis.

Selamat tahun baru islam, selamat menempuh perjalanan hijrah intelektual, dari pemikiran statis menuju pemikiran tercerahkan, dari kesadaran individual (hanya mementingkan diri sendiri) menuju kesadaran sosial (memberi manfaat pada banyak orang), agar tahun ini lebih baik dari tahun kemaren.

Bogor, 1 Muharam 1448

Leave a Reply