Empati dalam Dunia Pendidikan dan Masa Depan Kekuasaan

Nasehudin (Nash Bro)
Mahasiswa Prodi PAI STAI Sirojul Falah Bogor

“Guru/dosen yang tidak empati pada siswanya, dia sedang mewariskan hal tersebut pada calon penguasa dimasa depan untuk tidak ber empati pada rakyatnya.”
-Anonim

Sebagaimana kata Nelson Mandela “Jika Anda tidak bisa menempatkan diri di posisi orang lain, Anda tidak pantas memimpin.”

Saya setuju bahwa pendidikan bukan hanya soal angka, kurikulum, dan ruang kelas. Pendidikan adalah ruang di mana empati ditumbuhkan, diuji, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di sinilah letak kunci masa depan kekuasaan yang sehat: bukan kekuasaan yang memaksa, tetapi yang memahami.

Dalam dunia pendidikan, seorang guru sejati tidak hanya mengajar materi, tetapi juga membaca wajah siswa yang lelah, menangkap bisikan kecemasan di balik diam, dan menemukan cara agar setiap siswa merasa dihargai. Kisah seorang guru di sebuah sekolah pedalaman menunjukkan bagaimana ia mengganti hukuman dengan percakapan, menurunkan suara tegas menjadi tanya lembut, dan hasilnya bukan hanya nilai yang naik, tetapi kepercayaan diri yang tumbuh. Di situlah empati berubah menjadi kekuasaan moral: bukan karena dihormati, tetapi karena dipercaya.

John Dewey, filsuf pendidikan, pernah berkata:
“Education is not preparation for life; education is life itself.”
(Pendidikan bukan persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri)

Dalam hidup yang sedang diajarkan di sekolah, empati adalah bahasa yang harus dipahami. Siswa yang merasakan empati dari gurunya akan lebih mudah memahami teman yang berbeda, memaafkan yang berbeda pandangan, dan bekerja sama dalam keragaman. Di masa depan, pemimpin yang lahir dari kelas‑kelas semacam ini tidak lagi membangun kekuasaan dengan kekerasan argumentasi, tetapi dengan keberanian mendengar.

Dalam dunia pendidikan, ini berarti bahwa guru yang mengajarkan empati harus menampakkan empati itu sendiri. Ketika siswa merasakan bahwa perasaan mereka dihargai, mereka akan mencontoh cara berkuasa yang lembut, memimpin karena dipercaya, bukan karena ditakuti.

Bayangkan masa depan di mana kekuasaan politik, ekonomi, dan sosial dipegang oleh generasi yang dibentuk oleh sekolah‑sekolah yang mengutamakan empati: ruang kelas yang tidak hanya cerdas, tetapi juga manusiawi. Maka masa depan kekuasaan bukan lagi tentang siapa yang paling keras menang, tetapi siapa yang paling peka membaca luka dan kebutuhan orang lain.

Sebagaimana kata Alfred Adler;

“Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another, and feeling with the heart of another.”
(Empati adalah melihat dengan mata orang lain, mendengar dengan telinga orang lain, dan merasakan dengan hati orang lain.)

Dengan demikian, pendidikan yang berempati bukan hanya mengubah sekolah, tetapi sedang menulis kembali kisah kekuasaan dimasa depan yang lebih lembut, lebih adil, dan lebih manusiawi.

Sekali lagi saya ulang, kalau anda sebagai seorang guru atau dosen tidak ber empati pada siswa anda, sebenarnya anda sedang melahirkan penguasa yang tidak berempati pada rakyatnya, dan andalah yang menjadi rakyat itu, dimasa depan. Bogor, 07/05/2026

Leave a Reply