Membangunkan Umat Islam yang Tertidur : Strategi Perjuangan Kolektif untuk Pembebasan Baitul Maqdis

Bil Diena Fida AzzamiMahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam STAI Sirojul Falah

“Ketika kami membakar masjid Al-Aqsa sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Aku takut bangsa Arab akan berbondong-bondong memasuki Israel dari segala penjuru. Tapi ketika esok hari tiba, aku baru tahu bahwa kami bisa berbuat apapun yang kami inginkan, karena sebenarnya kami sedang berhadapan dengan umat islam yang tidur.” Zion Golda Meir (PM Israel)1. Hal ini memberi gambaran jelas akan kondisi umat yang Baitul Maqdis tak ada lagi dalam dirinya.

Penyerangan 7 Oktober 2023 atau yang dikenal sebagai Thaufanul Aqsa, tak diduga berhasil membuka lebar mata dunia terhadap kondisi Palestina atau Baitul Maqdis yang mengenaskan, membuat umat yang sebelumnya tertidur mulai perlahan bangkit dan menyuarakan perlawanannya terhadap Zionis. Genosida yang terdokumentasi dengan jelas ini memicu dukungan masif di berbagai belahan dunia yang terlihat dari aksi protes besar di jalanan, konten resistensi yang menjamur di media sosial, hingga gerakan Boycott-Divestment-Sanctions (BDS) yang didukung tidak hanya oleh umat Muslim, tetapi juga oleh non-Muslim.

Namun, kondisi umat yang fluktuatif membuat fenomena ini layaknya kembang api—cepat menyala tetapi juga cepat padam. Umat Muslim dibuat merasa tak berdaya dan lelah oleh berita-berita tragis, yang akhirnya menyebabkan mereka kembali terlena dalam kehidupan duniawi. Setahun sudah pasca kejadian ini, meninggalkan pesan bagi mereka yang merespon sebatas pada emosional semata—seakan akan dunia ini sudah baik-baik saja. Pada nyatanya, penyerangan ini masih berlanjut bahkan meluas hingga lebanon dan syiria.2 Lalu bagaimana caranya agar umat Muslim dapat konsisten dalam memperjuangkan pembebasan Baitul Maqdis ini? Bagaimana agar kita tidak menjadi umat yang tidur? Melalui artikel ini, penulis akan membagikan beberapa kiat agar kita dapat menjaga semangat perjuangan sepanjang masa serta membangun kesadaran kolektif umat untuk pembebasan Baitul Maqdis, yang dirangkum dalam 3 poin berikut:

Strengthen Connection with the Holy Land

Pernahkah kamu menyaksikan kecelakaan tabrak lari di jalan raya yang menyebabkan korban meninggal? Jika pernah, mungkin saat itu kamu merasa iba terhadap korban, bahkan juga berempati dan turun membantu. Namun, ketika melanjutkan perjalanan dan tiba di tujuan, sering kali kita dengan mudah melupakan kejadian tersebut dan kembali ke rutinitas sehari-hari seolah tidak ada yang terjadi. Berbeda halnya jika korban kecelakaan itu adalah anggota keluargamu. Kamu mungkin tidak akan melanjutkan perjalanan, bahkan berusaha mencari keadilan dengan mengusut pelaku. Meski pelakunya telah ditangkap, kejadian itu mungkin tetap sulit dilupakan dalam waktu yang lama. Rasa sedih dan kehilangan akan terus membekas di hatimu.

Hal ini terjadi karena kita memiliki ikatan yang kuat pada keluarga, yang memberikan dampak emosional mendalam yang juga dapat menimbulkan respon langsung pada kejadian tersebut. Berbeda dengan kasus pertama, dimana kita tak memiliki ikatan apapun dengan korban, sehingga emosi yang ditimbulkan bersifat sesaat.

Sama halnya jika kita menjalin koneksi yang kuat dengan Baitul Maqdis, kondisi seperti eskalasi ataupun deeskalasi, tidak akan mempengaruhi semangat kita dalam perjuangan membebaskan Tanah Suci ini. Sesulit dan sekompleks apapun perjuangannya, ikatan inilah yang akan membuat kita merasa lebih bertanggung jawab atas apa yang menjadi risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam semasa hidupnya, yaitu pembebasan Baitul Maqdis. Sebagaimana kita berjuang untuk keadilan dan kebaikan bagi keluarga kita, begitu pula kita seharusnya memperjuangkan hak dan keberadaan Baitul Maqdis. Namun, langkah apa yang harus diambil dalam membangun hubungan kuat dengan tanah para nabi ini?

Untuk menjalin hubungan dengan Baitul Maqdis, akan lebih mudah jika kita memulai hal ini dengan kata why, atau mengapa. Dengan kita mengetahui mengapa kita harus memperjuangkan Baitul Maqdis, maka akan lebih mudah untuk kita menumbuhkan benih cinta dihati terhadap Tanah Suci ini. Disini penulis akan memberikan sedikit penjelasan tentang mengapa kita harus menjaga Palestina, dengan membahas tentang ke istimewaannya.

Merupakan tanah suci umat Muslim

Sebagaimana yang disebut di Al-Qur’an, “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu…” [5:21]. Dalam surat ini diceritakan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam memerintahkan kaumnya (Bani Israil) untuk memasuki

berarti tanah suci atau tanah yang disucikan. Menurut tafsir para

ulama, tanah suci yang dimaksud pada ayat di atas adalah Baitul Maqdis yang saat ini dinamakan Palestina.3

Sebagaimana kita merasakan koneksi kuat dengan tempat yang merupakan kiblat kita, yakni Masjidil Haram, lantas kita juga harus merasakan koneksi yang sama ketika menyangkut tentang Baitul Maqdis. Karena kedua tempat ini merupakan tempat suci yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an.

Tanah para nabi

Hampir sepertiga ayat dalam al-Qur’an berisikan tentang Baitul Maqdis, dimana didalamnya banyak shirah yang juga dilatarbelakangi oleh tanah ini. Salah satu contohnya yang disebut dalam qur’an sebagai berikut. “Kami menyelamatkannya (Ibrahim) dan Luth ke tanah yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” [21:71]. Dalam ayat ini diperintahkannya Ibrahim ‘alaihissalam dan Luth ‘alaihissalam agar hijrah dari tempatnya Babilonia (Irak) ke Syam yang didalamnya termasuk Palestina.4

Adapun peristiwa Isra Mi’raj yang Allah berikan pada kekasihNya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagai hadiah di tahun kesedihannya. Dimana pada saat itu, rasulullah juga menjadi imam shalat dari para nabi yang jumlahnya hingga 124.0005 Peristiwa menakjubkan ini belatar bukan di mekkah melainkan tanah Palestina, yaitu masjidil Aqsa. Jika Palestina adalah perkara biasa, tidak mungkin Allah menjadikan ini sebagai tempat yang diatasnya dilaksanakan shalat jama’ah oleh para nabi.

Dari sini kita mengetahui bahwa Palestina adalah tanah yang Allah istimewakan, sekaligus menjadi saksi banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam. Namun, tanah barakah ini sedang mengalami pendudukan berdarah terutama oleh banyak saudara kita disana. Maka, apakah dibenarkan jika kita bersikap diam bahkan tak acuh dalam merespons kondisi ini?

Liberation of mind before liberation of land

Kita hidup di zaman yang terpaut ribuan tahun jauhnya dari masa Rasulullah. Ironisnya, di era ini, banyak umat Islam yang kurang memahami agama mereka sendiri. Terlalu  terikat dengan kehidupan duniawi, sehingga kita sering kali buta terhadap hal-hal yang bersifat ukhrawi. Umat Muslim seolah sedang dijajah oleh pemahaman yang lemah mengenai pandangan hidup.

Tidaklah heran jika pasca fenomena genosida ini, banyak umat yang awalnya berapi-api merespons kondisi tersebut, namun seiringnya waktu, semangat perjuangan mereka semakin meredup, bahkan padam. Situasi ini disebabkan oleh sistem-sistem yang diciptakan oleh para penjajah, yang sejatinya sedang membelenggu pemikiran kita.

Contoh kasusnya, banyak Muslim saat ini disibukkan dengan pengidolaan artis-artis, yang membuat seseorang semakin jauh dari agamanya sendiri. Akibatnya, fokus umat yang seharusnya bisa optimal untuk urusan seperti Baitul Maqdis, pada akhirnya teralihkan. Kondisi Palestina, yang seharusnya mendapat perhatian penuh, malah sering kali terlupakan. Padahal, perjuangan pembebasan Palestina bukan sekadar tren yang bersifat naik turun, melainkan harus menjadi komitmen sepanjang hidup kita sebagai Muslim.

Maka dari itu pembebasan pemikiran harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pembebasan tanah Baitul Maqdis. Ikhtiar yang dapat kita lakukan dalam pembebasan pemikiran akan dirangkum dalam 3 poin berikut :

The Ummah of Reading

Iqra‘”, Wahyu pertama yang Allah turunkan khusus untuk umat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, yang berarti bacalah. Wahyu ini menekankan betapa pentingnya ilmu bagi manusia yang dimana, Allah memerintahkan kita tidak hanya untuk membaca kata-kata, tetapi juga memahami ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu merupakan satu hal yang memuliakan manusia dan membedakannya dari makhluk Allah yang lain.6

Sebagai langkah awal, fondasi utama yang harus dimiliki adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu inilah yang pada akhirnya akan membentuk nilai-nilai dalam keyakinan hidup kita, sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh pandangan atau sistem yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan ilmu juga, kita akan lebih kritis dalam menyaring informasi dan mampu mempertahankan prinsip-prinsip yang benar, membuat kita lebih kuat dalam menghadapi upaya penjajahan pemikiran dan nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Cause we’re the ummah of “Iqra” (reading), it’s only through knowledge that we can liberated our mind from mental colonization.

Melepas lifestyle penjajah

Kita tidak bisa memulai perubahan tanpa aksi nyata yang didasari dengan niat dan tekad. Maka dari itu, penting bagi kita untuk melepaskan diri dari gaya hidup penjajah, apalagi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Kita sedang dijajah dari segala arah. Menormalisasi perilaku haram, seperti riba yang dianggap biasa dalam transaksi ekonomi dan zina yang diterima sebagai bagian dari pergaulan modern— membuat banyak umat pada akhirnya mengikuti tren tanpa peduli apakah itu sesuai syariah atau tidak.

Tentu dengan semua hal ini, kita sebagai umat Islam harus sadar dan melakukan perubahan. Inilah saatnya untuk kita mengambil langkah, dengan melepaskan diri dari semua lifestyle tersebut dan kembali ke cara hidup yang Islami. Dengan memulai dari hal kecil seperti memilih makanan halal dan thayyib, menghindari riba, berpakaian sesuai syariah, serta memboikot produk-produk yang secara langsung atau tidak langsung teraffiliasi dengan penjajah. Dengan begitu, kita juga dapat dengan mudah membebaskan diri dari penjajahan.

Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah

Selaras dengan langkah konkret pelepasan diri dari lifestyle penjajah, yakni kembali ke gaya hidup Islami, maka sudah semestinya kita sebagai umat Muslim untuk kembali kepada Al-Qur’an dan  Sunnah. Dimulai dengan  perbaikan ibadah  dan peningkatan kualitas iman, maka kita sebenarnya sedang membangun fondasi yang kokoh dalam membangun semangat perjuangan Baitul Maqdis sepanjang masa.

“Jika penduduk negeri Syam telah rusak, maka tidak ada kebaikan untuk kalian.” (HR. Tirmidzi).7 Sebagaimana kita menginginkan Baitul Maqdis terbebas dari penjajahan, kita pun harus membebaskan diri terlebih dahulu dengan menjadi umat Muslim yang kuat iman dan islamnya. Karna negeri Syam dan penduduknya merupakan barometer kondisi umat muslim seluruh dunia. Jika kaum muslim dalam keadaan lemah maka negeri Syam pastinya dalam kondisi konflik. Sebaliknya, jika kondisi umat muslim seluruh dunia kuat, dengan demikian kebebasan negri Syam juga mengikuti.

Act on What You Can Do Today

Ada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihissalam mengenai fatwanya tentang Baitul Maqdis. Ia ditanya oleh seorang budak tentang apa yang harus dilakukan untuk Baitul Maqdis jika tak mampu mendatanginya, maka dengan itu diberitahunya oleh Rasulullah untuk senantiasa memberikan hadiah untuk Baitul Maqdis.8 Jika kita masih merasa tak berdaya atas kondisi yang terjadi, maka sejatikan kita belum berhasil menumbuhkan jiwa pejuang dalam diri kita.

Karna setiap Muslim, terlepas dari latar belakangnya, pada dasarnya dapat ikut andil dalam strategi pembebasan dengan memanfaatkan kemampuan yang ada pada dirinya. Meskipun mungkin secara geografis kita jauh dari Palestina dan belum bisa memberikan bantuan secara langsung. Tetapi, masih banyak cara untuk terlibat dalam perjuangan seperti melakukan apa yang menjadi kemampuan kita. Contoh, jika kita seorang penulis, maka berilah hadiah berupa tulisan yang dapat membangunkan lebih banyak umat untuk Baitul Maqdis. Bahkan, seminimalnya kita dapat memulai dengan belajar lebih dalam tentang Baitul Maqdis dengan meneladani strategi pembebasan Rasulullah dan generasi Salahuddin.

Karna hal-hal besar sering kali dimulai dari gerakan kecil, dan setiap upaya, sekecil apapun, akan memiliki dampak yang signifikan. Atau setidaknya, ikhtiar yang kita lakukan terhadap Baitul Maqdis akan menjadi saksi ketika hari akhir itu tiba. Karena, tanah suci maupun penduduk didalamnya merupakan tanggung jawab kita sebagai Muslim.

Kesimpulan

Menjaga semangat perjuangan untuk pembebasan Baitul Maqdis memerlukan usaha dan kesadaran kolektif umat Islam. Dengan memperkuat hubungan kita dengan tanah suci, membebaskan pikiran dari pengaruh penjajah, dan menghidupkan kembali semangat membaca serta berilmu, kita dapat memastikan bahwa perjuangan ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah komitmen sepanjang masa. Penting untuk melakukan aksi nyata dan berpartisipasi dalam berbagai inisiatif yang mendukung Palestina, baik melalui penggalangan dana, penyebaran informasi, maupun kampanye boikot. Dengan bersatu dan saling mendukung, kita bisa mewujudkan bangunnya umat yang tertidur dan membangkitkan kembali semangat umat dalam memperjuangkan Baitul Maqdis.

Daftar Referensi

  • Siaw, F., & Tahrir Al-Aqsa. (2024). Baitul Maqdis for dummies. Al Fatih Press.
  • Al-Imam Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky Al-Hasani. (n.d.). Al-Anwaarul Bahiyyah dan Dzikrayaat wa Munaasabaat: Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW (Ustadz              M.           Za’im           Hamzah,           Trans.).           Diunduh      dari https://www.abusyuja.com/2022/10/download-kitab-al-anwarul-bahiyyah-pdf-terjemahn ya.html
  • Tafsirweb. (n.d.). Surat Al-Anbiya ayat 71. Diunduh dari https://tafsirweb.com/5583-surat-al-anbiya-ayat-71.html
  • Siauw, F. (2024, October 5). Berilah hadiah untuk Baitul Maqdis: Pembantu Nabi. Tumblr.                                                        Diunduh                                                 dari https://www.tumblr.com/ustadzfelixsiauw/186670905221/berilah-hadiah-untuk-baitul- m aqdis-pembantu-nabi
  • Tafsir         Web.       (n.d.).       Surat       Al-Maidah      ayat        21.            Diunduh  dari https://tafsirweb.com/1905-surat-al-maidah-ayat-21.html
  • CNN Indonesia. (2024, October 5). Israel serang 3 wilayah: Timur Tengah, Palestina, Lebanon,                        dan                      Suriah.                      Diunduh                 dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20241005083930-120-1151817/israel-sera ng-3-wilayah-timur-tengah-palestina-lebanon-dan-suriah

Leave a Reply