Dr. Misno, SHI., SE., MEI., MH., M.Pd
Dosen Pascasarjana STAI Sirojul Falah Bogor
Salah satu dari kenikmatan dan anugerah yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada kita semua adalah kenikmatan untuk dapat hidup di bawah naungan Islam. Ini adalah kenikmatan yang tiada duanya, sebagaimana kalamNya: “Maka siapa saja dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” [Al-An’aam/6: 125]
Kenikmatan yang telah Allah sampaikan dalam kalamNya tersebut tentu bukan tanpa alasan, syariah Islam yang telah sempurna menjadi pedoman satu-satunya dalam menjalani kehidupan di alam semesta. “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [Al-Maa-idah/5: 3].
Kesempurnaan Islam juga disebutkan dalam sabda hadits Nabi Muhammad Shalallahu Alaih Wassalam: Dari Shahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’” HR. At-Thabrani.
Syariah Islam yang sempurna memberikan pedoman kepada seluruh umat Islam dalam menjalani kehidupannya. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber pedoman utama, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia: “Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm.
Maka, Al-Qur’an dan As-Sunnah atau Al-Hadits menjadi pedoman umat Islam dalam menjalankan amanah Allah Ta’ala sebagai penanggungjawab semesta raya. Pedoman ini sangat sempurna dan mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, dari seseorang bangun tidur sampai tidur lagi bahkan ketika sedang tidur diberikan pedomannya dalam Islam. Demikian pula permasalahan besar mulai dari Aqidah, Ibadah dan Muamalah telah lengkap aturannya untuk dilaksanakan dengan penuh ketundukan.
Maka kewajiban bagi kita sebagai seorang muslim untuk terus belajar, belajar dan belajar tentang Islam, kemudian mengamalkannya dan menyampaikan kepada seluruh semesta tentang sifat Islam yang membawa Rahmat bagi seluruh alam. Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. [Al-Anbiyâ’/21:107].
Rahmat Islam bagi seluruh alam tercermin dari sifat-sifat yang menjadi karakter utamanya, diantaranya adalah sifat menghargai dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kalian mencela sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allâh, karena mereka nanti akan mencela Allâh dengan melampaui batas tanpa ilmu. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik amalan mereka. Kemudian kepada Rabb merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. [Al-An’âm/6:108]
Merujuk pada ayat ini maka tidak boleh kita mencela agama, kepercayaan dan tuhan-tuhan yang disembah oleh orang di luar Islam karena itu merupakan bentuk menjaga dari mereka membalas mencela Allah dan agamaNya. Pedoman dalam Al-Qur’an sudah jelas yaitu; Bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami. QS. Al-Kafirun: 6.
Rahmat Islam juga nampak dari konsep umatan wahidah yang terdapat di dalam Piagam Madinah, yaitu sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Pasal 25: Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga.
Piagam Madinah menjadi pedoman bagi umat Islam dalam berbangsa dan bernegara, tanpa melihat agama, ras dan suku bangsa. Selama mereka memiliki visi dan misi yang sama maka mereka semua adalah saudara satu bangsa (Ukhuwah wathaniyyah).
Rahmat Islam Islam untuk semesta adalah menjaga lingkungan agar selalu memberikan yang terbaik kepada manusia. misalnya dilarang untuk mengotori sungai, membuang sampah sembarangan dan buang hajat sembarangan. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaih Wassalam: Dari ‘Abdullah bin Hubsyi ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menebang pohon bidara, maka Allah akan membenamkan kepalanya dalam api neraka.” HR. Abu Dawud.
“Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon.” HR Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah.
Sejatinya masih banyak lagi bukti-bukti nyata bahwa Islam benar-benar menjadi Rahmat untuk semesta, bukan hanya bagi manusia tetapi untuk hewan dan seluruh alam raya. Maka, tugas kita sebagai seorang muslim adalah menyampaikan Islam kepada seluruh semesta, Islam yang membawa kedamaian, ketenterama dan kesejahteraan di dunia dan akhirat sana. Wallahu a’lam.
