Harapan untuk Indonesia: Taqwa kepada Allah Ta’ala sebagai Modal Utama Menuju Indonesia Jaya

Oleh: Assos. Prof. Dr. Misno, MEI., MH., M.Pd

Nama saya Misno, sebuah nama yang sederhana dan sangat khas masyarakat desa. Nama ini mungkin tidak terdengar modern, bahkan oleh sebagian orang dianggap biasa saja. Namun bagi saya, nama Misno adalah identitas, sejarah, dan akar yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup saya. Ia adalah penanda asal-usul, latar budaya, serta nilai-nilai yang membentuk cara saya memandang dunia. Saya lahir dan tumbuh besar di wilayah Jawa bagian selatan, tepatnya di Kabupaten Cilacap, sebuah daerah yang dikenal dengan kesahajaannya.

Desa asal saya bernama Ujungmanik, sebuah desa kecil yang terletak di ujung selatan Pulau Jawa dan langsung menghadap Samudera Indonesia. Desa ini tidak ramai, tidak pula gemerlap, tetapi menyimpan ketenangan dan kejujuran hidup yang sulit ditemukan di kota besar. Di desa inilah saya belajar bahwa hidup bukan tentang berapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa besar rasa syukur yang tertanam di hati. Kehidupan masyarakat desa yang sederhana mengajarkan saya tentang arti kebersamaan, kerja keras, dan kesabaran dalam menghadapi keterbatasan.

Lingkungan alam Ujungmanik sangat memengaruhi pembentukan karakter saya. Laut yang luas mengajarkan keteguhan dan ketenangan, ombak yang datang silih berganti mengajarkan ketabahan, sementara sawah yang terbentang luas mengajarkan tentang kerja keras, ketekunan, dan kesabaran menunggu hasil. Kehidupan desa yang jauh dari kemewahan juga mengajarkan arti berbagi dan kepedulian sosial. Semua nilai ini secara perlahan membentuk fondasi cara pandang saya terhadap kehidupan, pendidikan, dan kebangsaan.

Pada masa kanak-kanak hingga remaja, saya tidak memungkiri bahwa saya pernah merasa kurang percaya diri dengan nama Misno. Nama ini terdengar sangat lokal dan tidak memiliki kesan modern. Ketika berhadapan dengan dunia luar, terutama di lingkungan pendidikan yang lebih luas, muncul perasaan minder dan keinginan untuk memiliki identitas yang terdengar lebih “tinggi”. Namun seiring waktu, pengalaman hidup mengajarkan saya bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh nama, melainkan oleh sikap, kontribusi, dan integritasnya.

Menurut cerita biyunge (ibu), nama Misno memiliki makna yang sederhana namun sarat nilai. Kata “mis” merujuk pada hari Kamis, hari kelahiran saya, sedangkan “no” berasal dari kata ono yang berarti ada. Makna ini mengajarkan bahwa keberadaan setiap manusia bukanlah kebetulan, melainkan kehendak Allah Ta’ala. Setiap manusia hadir dengan tujuan dan amanahnya masing-masing. Dari sinilah saya belajar bahwa kesederhanaan bukanlah kekurangan, melainkan jalan untuk memahami makna hidup secara lebih mendalam.

Seiring bertambahnya usia, rasa bangga terhadap nama Misno tumbuh seiring dengan rasa bangga saya sebagai warga negara Indonesia. Indonesia adalah negeri yang lahir dari kesederhanaan rakyatnya, dari keringat para petani, nelayan, buruh, dan pejuang yang rela berkorban demi kemerdekaan. Mencintai Indonesia berarti menerima seluruh realitasnya, baik keindahan maupun luka-lukanya. Rasa cinta itu bukanlah cinta buta, melainkan cinta yang kritis dan bertanggung jawab.

Alhamdulillah, atas izin dan karunia Allah Ta’ala, saya dianugerahi kemampuan intelektual yang cukup baik. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya terbiasa meraih peringkat satu atau dua. Prestasi ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan melalui proses belajar yang panjang, kedisiplinan, serta bimbingan orang tua dan guru-guru yang tulus mendidik. Dalam keterbatasan fasilitas pendidikan di desa, semangat belajar menjadi modal utama untuk terus maju.

Kebiasaan membaca, mencatat, dan bertanya menjadi bagian penting dalam keseharian saya. Saya belajar bahwa ilmu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dicari dan diperjuangkan. Kebiasaan ini terus terbawa hingga jenjang pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Pada program sarjana, saya lulus sebagai lulusan terbaik. Pencapaian ini kembali terulang pada jenjang magister dan doktoral. Namun, saya menyadari sepenuhnya bahwa semua itu adalah karunia Allah Ta’ala yang harus disyukuri.

Capaian akademik tersebut saya sampaikan sebagai bentuk tahaduts bi ni’mah. Ilmu bukan untuk disombongkan, melainkan untuk diamalkan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar tanggung jawab sosial dan moral yang ia pikul. Kesadaran inilah yang mendorong saya untuk terus berkontribusi melalui dunia pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

Sebagai warga negara Indonesia, saya meyakini bahwa mencintai dan membanggakan negeri ini adalah sebuah keniscayaan. Indonesia adalah rumah besar bagi ratusan juta penduduk dengan latar belakang suku, budaya, bahasa, dan agama yang sangat beragam. Keberagaman ini adalah anugerah besar yang jika dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan utama bangsa. Namun jika diabaikan, ia dapat berubah menjadi sumber konflik dan perpecahan.

Pengalaman saya berkeliling Indonesia dalam rangka kegiatan akademik semakin memperkaya perspektif saya. Saya mengunjungi berbagai daerah di Sumatera, Kalimantan (Borneo), Sulawesi, hingga Kepulauan Sunda Kecil. Setiap daerah memiliki keunikan dan kekayaan tersendiri. Saya melihat potensi alam yang melimpah, budaya yang hidup, serta masyarakat yang memiliki daya juang tinggi. Semua ini semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa Indonesia adalah negeri yang sangat kaya.

Namun, di balik kekayaan tersebut, saya juga menyaksikan berbagai persoalan serius. Perjalanan darat dari Pontianak menuju perbatasan Entikong hingga menembus Kuching, Malaysia, meninggalkan kesan mendalam tentang rusaknya hutan Kalimantan. Hutan yang seharusnya menjadi paru-paru dunia justru banyak yang gundul akibat penebangan liar dan eksploitasi besar-besaran. Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Hal serupa saya saksikan dalam perjalanan darat dari Makassar menuju Palopo, Toraja, hingga Palu di Sulawesi. Alam yang indah perlahan rusak akibat keserakahan manusia. Kerusakan lingkungan ini berdampak langsung pada hilangnya mata pencaharian masyarakat, meningkatnya risiko bencana alam, serta rusaknya keseimbangan ekosistem. Ketika alam dirusak, sesungguhnya manusia sedang merusak masa depan generasinya sendiri.

Kerusakan alam berbanding lurus dengan ketimpangan ekonomi yang semakin terasa. Sistem ekonomi yang berjalan belum sepenuhnya berpihak pada keadilan dan kesejahteraan bersama. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa yang miskin semakin sulit keluar dari kemiskinan, sementara yang kaya semakin kokoh dengan kekuasaan dan modalnya. Jurang antara si kaya dan si miskin semakin menganga dan berpotensi memicu konflik sosial.

Dominasi sistem ekonomi ribawi menjadi salah satu faktor utama ketimpangan tersebut. Petani, nelayan, buruh, dan masyarakat kecil sering kali terjebak dalam jeratan utang yang sulit diputus. Sistem ini membuat mereka kehilangan kemandirian ekonomi dan terus berada dalam posisi lemah. Dalam kondisi seperti ini, pertolongan Allah Ta’ala menjadi satu-satunya harapan untuk keluar dari lingkaran ketidakadilan.

Persoalan ekonomi yang timpang ini diperparah oleh praktik politik yang menyimpang. Banyak politisi dan partai politik yang lebih mementingkan kepentingan keluarga dan kelompoknya (aalihi wa ashaabih) dibandingkan kepentingan rakyat. Pemilu yang seharusnya menjadi sarana pendidikan politik justru sering memunculkan polarisasi, fitnah, dan perpecahan di tengah masyarakat. Demokrasi kehilangan makna substansialnya.

Popularitas sering kali lebih diutamakan daripada kapasitas dan integritas. Akibatnya, jabatan wakil rakyat tidak jarang diisi oleh figur yang kurang memiliki kompetensi dan visi kebangsaan. Para pelawah dengan mudah melenggang sebagai anggota dewan karena ppularitasnya. Politik kemudian dipersepsikan sebagai ladang bisnis dan kekuasaan, bukan sebagai amanah untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Dunia pendidikan pun tidak luput dari persoalan serius. Isu ijazah palsu yang melibatkan tokoh nasional telah mencederai kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi. Praktik jual beli ijazah, meskipun sering dibantah, sejatinya masih terjadi. Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan telah tergerus oleh kepentingan materi dan kekuasaan.

Selain itu, kebijakan pendidikan yang sering berubah seiring pergantian menteri menyebabkan arah pendidikan menjadi tidak konsisten. Kurikulum berganti, kebijakan berubah, dan dunia pendidikan kehilangan ruhnya. Pendidikan yang seharusnya membentuk manusia berilmu dan berakhlak justru terjebak dalam administrasi dan kepentingan jangka pendek.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia sering kali mendapat stigma negatif. Islam kerap dituduh sebagai sumber kekerasan dan terorisme. Bahkan, ada upaya untuk memisahkan Islam dari sejarah dan budaya Nusantara, seolah Islam adalah unsur asing yang tidak layak hidup di negeri ini.

Padahal, sejarah mencatat bahwa Islam telah hadir di Nusantara sejak abad ke-7 dan diterima secara damai, sebagaimana dicatat oleh Hamka. Islam menjadi bagian penting dari identitas bangsa dan menjadi spirit utama perjuangan melawan penjajahan. Islam di Indonesia tumbuh dengan wajah yang ramah, toleran, dan membumi.

Melihat berbagai fenomena tersebut, saya tetap menyimpan harapan besar untuk Indonesia. Kebanggaan sebagai warga negara Indonesia tidak boleh bersifat pasif. Kebanggaan itu harus diwujudkan dalam kontribusi nyata sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sejak tahun 2000, saya berusaha berkontribusi melalui dunia pendidikan, mulai dari mengajarkan alif ba ta tsa kepada anak-anak hingga mengajar metodologi riset dan filsafat ilmu di perguruan tinggi.

Menuju Indonesia Emas 2045, bangsa ini membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat, adil, dan berkelanjutan. Sistem ekonomi kapitalis berbasis riba terbukti gagal menghadirkan kesejahteraan yang merata. Sistem ekonomi Islam menawarkan solusi yang lebih manusiawi karena dibangun di atas nilai keadilan, keseimbangan, dan kepedulian sosial.

Larangan riba, gharar, dan maysir bukanlah pembatasan, melainkan mekanisme perlindungan agar ekonomi berjalan sehat dan stabil. Sistem ekonomi Islam juga menolak eksploitasi tenaga kerja dan alam secara berlebihan, sehingga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang dapat terjaga.

Dalam bidang politik, harapan tetap harus dirawat meskipun tantangannya besar. Indonesia membutuhkan pemimpin dan wakil rakyat yang amanah, memahami tugasnya, dan benar-benar berpihak kepada rakyat. Politik harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai sarana memperjuangkan kemaslahatan bersama.

Kehidupan sosial, budaya, dan agama di Indonesia sejatinya telah lama hidup dalam harmoni. Konflik yang muncul sering kali bukan disebabkan oleh perbedaan, melainkan oleh ketidakadilan ekonomi, kesenjangan sosial, dan provokasi pihak ketiga. Pengalaman sejarah di Timor Timur, Aceh, dan Papua menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keadilan dalam menjaga persatuan bangsa.

Akhirnya, harapan terbesar saya untuk Indonesia di tahun 2045 adalah terwujudnya bangsa yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Ketaqwaan menjadi fondasi moral yang mampu menekan korupsi, kejahatan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Dengan ketaqwaan, setiap individu akan berpikir ulang sebelum berbuat zalim.

Dengan ketaqwaan tersebut, saya yakin Indonesia Emas bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang dapat diwujudkan secara nyata. Bangsa yang kuat secara moral dan spiritual akan mampu berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan global. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan keberkahan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Aamiin Ya Allah. @kotahujan26012026

Leave a Reply